JANGAN PERNAH MELUPAKAN SEJARAHMU

JANGAN PERNAH MELUPAKAN SEJARAHMU
Suasana MK 2011

April 12, 2012

SERAT CENTHINI: WEJANGAN SUNAN KALIJAGA


Dalam Serat Centhini yang berjudul “ Wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga “, kita menjadi tahu bahwa dalam sejarah wayang kulit yang ada saat ini, ternyata ada campur tangan dari sunan kalijaga yang beragama islam. Pada umumnya cerita/ lakon wayang merupakan kisah-kisah dari agama Budha, dan merupakan sastra cerita Budha. Setelah bersalaman Raja Yudhistira mengutarakan maksud hatinya untuk memberikan barang pusaka satu-satunya yang ia miliki, ia membuka peti yang tadinya diduduki, isinya adalah keropak bergambar tiga tokoh wayang : pertama Sri Baladewa, kedua Raja Dwarawati, ketiga Arya Wrekudara, serta hasil sastra dahulu dengan lakon: pertama, pernikahan Arjuna dengan Dyah Wara Sembadra, putri kerajaan Madura, saudara Baladewa dan Kresna , dihiasi oleh Hyang Hudipti  dengan kayu Klepu Dewadaru. Ini juga yang menjadi tradisi saat ini yaitu setiap ada pengantin pasti dihiasi dengan Kembarmayang. Kedua tentang kisah peperangan antara Pandhawa melawan Kurawa memperebutkan Negari Hastina Pura, Pandhawa memenangkan peperangan itu, dan menjadi kisah yang bernama Bratayudha, disertai dengan silsilah Pandhawa dan para raja.





Guru yang dimaksud disini adalah Sunan Kalijaga, beliau dengan senang hati menerima amanah ini, kemudian Sunan Kalijaga bertanya kepada Sri Yudhistira “ Siapakah yang mempunyai bayangan ketiga gambar masing-masing? ”. Setelah Sri Yudhistira menjelaskannya secara rinci, Sunan Kalijaga bertaya lagi, “ Apakah maksud kamu memberi gambar beserta kelengkapan sastra cerita budha padaku?“, Jawab sang raja, “ Duhai kanjeng Sunan Kalijaga guru kami, ketiga gambar wayang ini terapkanlah pada panggung Maesa Danu kerbau hutan, maksudnya kulit kerbau, jadilah berkebalikan. Tulang Kerbau hendaknya dipakai gambar ini, tanduk kerbau hendaknya dipakai ototnya, kulit kerbau hendaknya dipakai tulangnya. Kemudian ceritakan menjadi sebuah lakon, agar menjadi suri tauladan di kemudian hari, bagi para raja, kesatria, prajurit, wanita, maharesi dan seluruh isi dunia “.

Raja Yudhistira, setelah memberikan wejangan ini kemudian meninggal, jenazahnya dimandikan, para warga diberitahu, dan kemudian disemayamkan, selesai dimakamkan kemudian diberi tanda batu nisan, dengan nama Kyai Yudhistira, yang hingga kini masih ada berada di barat laut Masjid Demak.

Setelah Sunan Kalijaga pulang ke Giri dari perantauannya, ia menceritakan semua pengalamannya tanpa ada yang terlewat sedikitpun, para wali yang lainpun ikut senang, dan sepakat untuk mengadakan peringatan, dan menjadikan ketiga wayang tersebut sebagai kenang-kenangan. Dan sepakat memakai ciri air muka sebagai pencirian tokoh, bila membuat wayang dengan bentuk mata Kedhondongan merupakan pola dari Prabu Baladewa dari Madura. Mata dengan liyepan kecil panjang berpola pada gambar Sri Kresna Raja Negari Dwarawati.

 Mata Mentheleng sereng, tajam, keras, menarik, berpola pada ksatria di Jhodipati, Raden Arya Wrekudara. Namun, ketika akan membuat gambaran tentang para raksasa atau danawa, para wali agak kebingungan, dan karena Sunan Kalijaga juga tidak menanyakannya pada Sri Yudhistira, dalam keadaan kebingungan, tidak jauh dari tempat berkumpulnya para wali, Sunan Kalijaga melihat seekor anjing yang sedang menggigit tulang dengan gigi taring meringis, seketika itulah Sunan Kalijaga menjadikannya sebagai pola raksasa.

Itulah asal mulanya ada Wayang Kulit Kerbau, yang tersebar saat ini, yang mewujudkan dan mengubah lakonnya, tidak lain karena karomah Kanjeng Sunan Kalijaga. Marilah sekali jadi memperbincangkan yang disebut Purwakanthi sajak rima: wali wolu tanah jawa, delapan wali itu adalah:

1)      Kanjeng  Sunan Ampelgadhing ( Raden Rakhmat )

2)      Sunan Gunung Jati ( Sayid Jen )

3)      Kanjeng Sunan Ngudung ( Syekh Sabil ), putra Maulana Iskak

4)      Kanjeng Sunan Giri Gajahpura ( Raden Satmata )

5)      Kanjeng Sunan Bonang ( Raden Makdum Ibrahim )

6)      Kanjeng Sunan Bukit Majagung ( Raden Ngalim Hurrah )

7)      Kanjeng Sunan Drajad ( Masakeh Mahmud )

8)      Kanjeng Sunan Kalijaga ( Raden Syahid ), putra Wilatikta Majapahit, adipati Jepara.

Adapun wali yang lainya disebut Wali Nukiba, artinya ialah susulan. Mengapa Kanjeng Sunan Kalijaga yang paling unggul, itu dikarenakan Kanjeng Sunan Kalijaga berguru kepada Nabi Kidir, mewarisi tingkah lakunya, Nabi Kidir tidak wafat, melainkan masih hidup sampi saat ini, namun gaib keberadaannya. Demikian bunyi kitab, demikian juga cerita Sunan Kalijaga, saat beliau wafat “ Berhentilah cerita Rasika “.[1][1]

KESIMPULAN

            Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan wayang kulit saat ini, merupakan jasa besar dari Raden Sunan Kalijaga, beliau dengan karamahnya mampu membuat orang terkagum-kagum dan mampu membuat orang lain mengikuti imannya. Beliau mampu menganalisis keterangan dari Sri Yudhistira, dalam proses dan mengenai bahan pembuatan wayang, selain itu banyak sekali peninggalan dari Sunan Kalijaga yang kita gunakan saat ini, seperti misalnya: grebek suro, grebek maulud, slametan, dan ritual-ritual dalam pernikahan. Dalm serat ini juga dituliskan silsilah kedelapan wali tanah jawa, dan kisah Nabi Kidir yang tidak bisa meninggal sampai hari kiamat datang.









[1][1] Serat Chentini/bab/Wejangan Sunan Kalijaga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar