JANGAN PERNAH MELUPAKAN SEJARAHMU

JANGAN PERNAH MELUPAKAN SEJARAHMU
Suasana MK 2011

April 17, 2012

PERADABAN YUNANI KLASIK DAN AWAL PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT


1.   Latar Belakang Peradaban Yunani
Keadaan alam memiliki andil dalam pembentukan peradaban Yunani, iklim dan geografi Yunani tidak banyak berubah sejak zaman kuno. Karena terletak di Mediterania, hujan di daerah ini turun pada bulan September dan Mei. Musim panasnya cukup lama, matahari bersinar sehari penuh, kering tetapi karena hembusan angin laut, udara di daerah ini menjadi tidak begitu panas. Pantainya yang berlekuk-lekuk, curam atau terjal dan dibentengi dengan pegunungan-pegunungan menjadikan alam Yunani indah dan mempesona, akan tetapi alam Yunani tidak pernah memanjakan penduduknya. Ladang dan kebun buah-buahan menghasilkan gandum untuk membuat bir, biji-bijian lainnya, buah-buahan, anggur, madu dan lain-lain.

Daratan Yunani secara geografis menguntungkan sekali, letaknya memungkinkan diselenggarakannya navigasi. Daratan dan pulau-pulau dengan pantai-pantainya yang berlekuk-lekuk menyebabkan pelabuhan-pelabuhan itu terlindungi. Keadaan geografis Yunani mempermudah adanya Desentralisasi Politik. Di lembah-lembah sungai Eufrat-Tigris dan Nil merupakan sarana Yunani untuk berhubungan dengan dunia luar, hal ini menyebabkan terbentuknya kerajaan yang besar. Unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami, lembah-lembah dan daratan rendah juga merupakan pemisah kesatuan yunit politik. Kesatuan politik itu dikenal dengan Polis atau Negara Kota (City Style), yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah disekitarya. Sebagian besar dari Polis-polis itu wilayah kekuasaannya sempit, walaupun Yunani merupakan negara kecil, namun memiliki banyak polis. Kota-kota di Yunani rata-rata sebesar kota kecil masa kini, dan sebagian besar penduduknya merupakan petani.



2.   Sejarah Yunani Awal
Sejarah polis-polis Yunani dibagi kedalam empat periode, periodisasi ini dihitung dalam ratusan tahun. Periode pertama sampai dengan 800 SM adalah zaman pembentukan negara-negara kota. Orang-orang Yunani mengkonsolidasikan kontrol mereka atas wilayah-wilayah yang diperoleh dari orang-orang Angea. Periode kedua yaitu dari 800 SM sampai 600 SM merupakan abad kolonisasi, dimana polis-polis itu mulai cukup kuat untuk mengadakan program ekspansi ke lur negeri secara ambisius. Periode ketiga yaitu dari 600 SM sampai 400 SM adalah zaman kejayaan  dimana peradaban Yunani mencapai puncak keemasan. Dalam periode ini perkembangan ekonomi, sosial dan politik mencapai puncaknya. Periode terakhir setelah 400 SM, Yunani mengalami kemunduran yang sangat drastis dibidang politik. Pada pertengahan kedua sekitar abad 4 SM, polis-polis di Yunani kehilangan seluruh kemerdekaannya dan menjadi bagian dari Kerajaan Macedonia yang diperintah oleh Iskandar Agung. Dua abad berikutnya polis-polis jatuh ketangan kekuasaan Kekaisaran Romawi.
3.   Bangsa Yunani di Masa Homerus
Di masa Homerus, orang-orang Yunani dan Troya bertingkah laku seperti Dewa-dewa mereka, yakni bertengkar dan mendongkol namun juga memperlihatkan penghormatan yang tinggi terhadap kesusilaan. Homerus juga memaparkan hal-hal yang tidak herois, yakni kehidupan sehari-hari bangsa Yunani dalam periode awal. Ekonomi mereka didasarkan atas hasil-hasil rampasan dan pembajakan laut, disamping pada pertanian dan perdagangan yang selayaknya. Keluarga Aristokratis yang mengklaim sebagai keturunan para Dewa dan Dewi dan jika diruntut hingga Zeus, mendominasi suku dan kelas dalam masyarakat. Aristokrat yang paling kuat dan berani menjadi raja, misalnya seperti Agamenon di Mycenae. Para Raja pemegang kedudukan khusus dalam kehidupan keagamaan. Merekalah pemuka agama, mereka memerintah dengan bantuan Para Arisokrat. Pemerintahan mereka adalah Monarki Absolut.



4.   Zaman Kolonisasi
Awal kolonisasi merupakan akhir zaman regim Patriarkhat dari masa Homerik. Pada abad 8 SM dan 7 SM, setip polis memiliki koloni-koloninya masing-masing, yang biasanya merdeka penuh dan tidak tergantung kepada kota induknya. Byzantium atau kemudian menjadi Konstantinopel dan kini menjadi Istanbul beserta tempat-tempat tinggal orang Yunani lainnya, membatasi Hellespot atau Dardanella dan Bosporus (selat yang terkenal yang menghubungkan Angea dengan Laut Hitam). Di Mediterania koloni orang-orang Yunani mencapai Pantai Gaul dan Spanyol Selatan. Kota Prancis yang kini bernama Marselles. Di sebelah Selatan Sicilia dan sepanjang Pantai Selatan Italia terdapat banyak koloni Yunani sehingga daerah itu disebut ”Magna Graecia” atau “Yunani Besar“. Ekspansi orang-orang Yunani ke seberang Laut Mediterania terhalang oleh koloni orang-orang Phoenicia di Chartago, yang lebih dahulu menduduki Sicilia Barat kemudian ke daerah-daerah sepanjang Pantai Utara Afrika.
Kolonisasi merupakan ekspresi dari selera orang-orang  Yunani untuk melakukan petualangan dan eksploitasi. Kesusastraan Yunani penuh dengan kisah-kisah kekejaman, percekcokan di dalam polis-polis itu dan peperangan-peperangan antar polis yang justru saling menghancurkan. Ketidakstabilan politik ini bermula dari kehausan akan tanah dan dari tradisi saling memusuhi di kalangan kolonisator pada zaman Yunani awal. Permusuhan itu sempat menimbulkan peristiwa berdarah dan menyebabkan Yunani terpecah menjadi polis-polis yang jumlahnya tak terkira banyaknya.
Meningkatnya jumlah penduduk secara terus-menerus juga merupakan salah satu sebab adanya emigrasi. Pada abad 8 SM, penduduk di beberapa polis telah memperluas sumber alam dan persediaan pangan. Adanya emigrasi bersamaan dengan impor pangan, tekanan penduduk yang berlebihan dapat diredakan. Ekspansi perdagangan dari luar menyebabkan timbulnya tekanan baru lagi. Dalam rangka menaikkan ekspor minyak zaitun dan anggur, para petani Yunani semakin mengkonsentrasikan diri pada peningkatan hasil panen buah zaitun dan anggur.
 Para petani kayu semakin teruntungkan ,sebaliknya para petani yang sudah miskin tidak mampu melakukan hal itu dan terpaksa harus berhutang kepada para petani kaya. Petani yang mengalami proses pemiskinan itu bukanlah merupakan satu-satunya hal yang menyusahkan orang-orang Yunani. Perkembangan perdagangan asing menimbulkan dua kelompok sosial baru yakni kelas pengusaha, pemilik kapal, dan penenun. Kelas yang lain adalah kelas pekerja dan buruh pelabuhan serta pelaut. Kedua kelas tersebut tidak senang melihat kekuasaan politik ada ditangan atau terpusat pada kaum Aristokrat dan para pemilik tanah kaya.
5.   Perubahan Bentuk Pemeritahan
Mengikuti zaman Homerik, golongan Aristokrasi menggerogoti kekuasan raja dan akhirnya banyak raja yang tak dikenal sama sekali. seorang penguasa yang mengambil alih kekuasaan. Bentuk pemerintahan ini disebut Tirani. Seorang tiran pada masa itu tidak mesti harus tiranis seperti pada masa sekarang ini. Di banyak polis, mereka membuat  program yang mantap untuk memperbaiki kesewenang-wenangan dan kelemahan regim Aristokrasi yang telah tumbang.
Abad tirani berlangsung dari 650 SM hingga 500 SM menandai suatu transisi zaman kolonialisasi ke zaman kejayaan bangsa Yunani. Pada tahun 500 SM banyak polis memiliki sistem pemerintahan yang dikembangkan oleh para tiran. Tirani menjadikan sistem pemerintahan lebih teratur dan bertanggung jawab. Dua Polis yang terkenal adalah Athena dan Sparta, di mana sistem pemerintahannya saling berlainan. Sparta memiliki pemerintahan Oligarki Militer yang keras dan terisolir, sedangkan Athena merupakan pusat percobaan besar di bidang Demokrasi.
6.   Sistem Sparta
Sparta dibangun atas sistem kasta yang kuat yang membagi penduduk menjadi tiga kelompok. Pertama “ Citizen” atau orang Sparta sendiri yang terdiri dari para penguasa dan tentara, kelompok kedua disebut kaum Helot, mereka terdiri dari kaum tani, buruh tani dan menjadi pelayan orang Sparta, kelompok ketiga adalah Perioikoi yaitu orang-orang yang tinggal di pinggiran atau sub urban. Baik kaum Helot maupun Perioikoi tidak memiliki hak politik, mereka tidak mungkin masuk golongan Sparta atau kawin dengan orang Sparta.



Stratifikasi sosial tersebut merupakan produk dan sejarah Sparta, Helot dan Perioikoi merupakan keturunan dari para penakluk yang pada abad sebelumnya datang dari utara menuju Polopenesus yang terletak disebelah selatan semenanjung Yunani. Sekitar abad 600 SM orang-orang Sparta menyempurnakan konstitusi mereka. Sistem Sparta yang sangat militeristis dan defensif menuntut latihan kemiliteran yang keras dalam masyarakat, penduduk hdup dalam tradisi yang penuh kedisiplinan, bagi yang cacat dibuang ke gua-gua atau ke gunung-gunung dan di biarkan mati atau dipungut orang Helot. Pada usia 7 tahun anak laki-laki harus meninggalkan orang tuanya untuk memasuki pusat latihan militer, penduduk yang dewasa meneruskan latihan yang keras dan tinggal di barak-barak sampai mereka mencapai usia 30 tahun.
7.   Institusi-institusi Sparta
Institusi Sparta memiliki angkatan bersenjata dengan prajurit-prajuritnya yang sangat pemberani dan tahan menderita. Orang-orang Sparta hanya mengembangkan segi kemiliterannya saja dengan mengabaikan segi-segi kehidupan lainnya. Polis yang semula memiliki peradaban yang berkembang pada periode sebelumnya, hampir sama sekali tidak menyumbangkan apapun dalam periode yang paling jaya untuk Seni Ukir, Arsitektur, Drama dan Filsafat Yunani. Sparta terbelakang dibidang ekonomi, meskipun tanahnya subur dan banyak mengandung tambang besi. Orang-orang Sparta melihat perkembangan perdagangan dan industrinya dari segi  kebutuhan militernya.
Pengaturan perekonomian dalam masyarakat Sparta mirip dengan apa yang terjadi di Mesir dan kesengsaraan hidup, orang-orang Helot mengingatkan kita pada petani mesir di Zaman Fir’aun. Sparta mirip dengan negara Authoritarian. Penduduk dilarang untuk menerima kunjungan dari polis-polis lain. Mereka menempatkan polis Rahasia diantara kaum Helot untuk menanggulangi pemberontakan, para polis Rahasia akan langsung membunuh orang-orang yang membangkang, ketakutan merupakan dasar dari negara sparta yakni takut pada uang, takut pada pemberontakan, takut dikalahkan tentara asing, serta takut pada ide-ide asing.

8.   Kebudayaan Athena
Upacara-upacara keagamaan Yunani lainnya juga mengandung hal-hal yang serba misterius. Ada ritus-ritus yang secara sederhana hanya dikenal sebagai Misteri saja, karena sifat-sifatnya yang sama sekali tidak jelas, sangat rahasia bagi orang awam dan hanya dapat dimengerti oleh kelompok orang-orang yang menjalani inisiasi. Di tempat-tempat pemujaan, orang-orang Yunani biasanya mengorbankan barang-barang rumah tangga dan harta milik pribadi. Namun dalam keadaan kritis mereka akan mengorbankan manusia sebagai persembahan, pengorbanan manusia ini sangat menonjol dalam legenda tentang Agamemnon, pemimpin Yunani dalam perang troya.
a.   Drama Yunani
Drama Yunani yang merupakan drama dalam sejarah barat, berasal dari festifal-festifal keagamaan setempat. Nyanyian dan Tarian yang mereka pentaskan untuk menghormati Dionysos, Dewa Anggur, selama abad 6 SM menjadi drama rutin mereka. Tema-tema drama itu pada umumnya bercorak tragedi dan tetap mempertahankan sifat-sifat keagamaannya. Drama itu dipentaskan di teater terbuka di lereng Bukit Acropolis, drama ini diiringi dengan paduan suara yang dianggap sebagai suatu reaksi yang manusiawi terhadap pertunjukan yang tengah di pentaskan.
Dalam suatu penegasan yang terkenal, Aristoteles menyatakan bahwa tragedi mempunyai maksud untuk menggerakkan “katharsis” atau membersihkan emosi penonton. Drama tragedi Yunani lainnya yang mengisahkan tentang orang-orang hukuman yang perbuatannya penuh dengan kejahatan adalah “antigone”. Drama ini adalah karya Spochles, drama terbuka dengan menampilkan Creon, Raja Thebes, yang telah berhasil menakhlukkan sebuah pemberontakan.
b.   Komedi
Drama komedi maupun tragedi berasal dari festival-festival keagamaan bangsa Yunani. Pertunjukan drama komedi dimaksudkan untuk mengajak penonton berpikir, melepaskan emosi melalui lelucon-lelucon yang bisa membuat mereka tertawa. Penulis drama terkenal, Aristhopanes, yang menspesialisasikan diri pada cerita-cerita yang berupa sindiran atau satire, namun lucu, aneh dan fantastis. Warga Athena menyukai drama skeptis ini, selain drama mereka juga menaruh minat yang besar terhadap Sokrates dan Filsuf-filsuf lainnya yang nampaknya kurang menghargai ajaran Polytheisme lama.
c.   Seni Bangunan dan Seni Pahat
Seni Arsitektur Yunani kualitasnya tidak kalah dengan prestasi yang dicapai kesusastraan, Arsitektur Yunani ditandai denganadanya pilar-pilar dan marmer atau batu pualam, seperti yang terletak di Parthenon dan bangunan lainnya di Acropolis, Arsitektur Yunani merefleksikan keagungan dan kesederhanaan konstruksinya. Parthenon yang didirikan antara 447 hingga 432 SM merupakan satu prestasi besar dalam proyek penyempurnaan kembali Acropolis di bawah Pericles.
Tiang-tiang di Parthenon berdiri langsung dari lantai bangunan itu dan berakhir pada bagian ujungnya yang berbentuk kapital dalam blok yang sederhana. Parthenon kini tinggal reruntuhannya, dan karya-karya yang agung Arsitektur Yunani lainnya telah lama merana semenjak Zaman Pericles. Demikian pula dengan seni patung Yunani, yang banyak diantaranya diketahui hanya dari tiruan-tiruan dari Zaman Romawi atau dari keterangan-keterangan tertulis. Seni Patung Yunani, seperti halnya dengan sastra, tidak semata-mata enunjukkan ciri-ciri religius. Para pematung dari Zaman Pericles sangat menonjolkan anatomi tubuh manusia.
d.   Ilmu Pengetahuan
Para arsitek Yunani selain sebagai ilmuan juga sebagai seniman. Untuk menciptakan ilusi penglihatan bagi penonton Parthenon benar-benar membutuhkan  pengetahuan yang dalam akan geometri dan fisika. Ketika itu muncul seorang Pytagoras, yang setelah Persia menakhlukkan pulau kelahirannya itu ia mendirikan sebuah sekolah untuk mengkaji  Matematika di Croton, Magna Gracia. Para pengikutnya menemukan hukum geometri, yang kemudian di kenal dengan dalil Pytagoras.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar